Memahami Gaya Belajar Anak

Posting Komentar
Memahami Gaya Belajar Anak


Alhamdulillah, tak terasa perjalanan kami di kelas bunsay sudah sampai pada materi ke-4. Tema yang diangkat kali ini adalah Gaya Belajar Anak. Tujuannya agar kami, para ibu memahami gaya belajar anak sehingga bisa mendampingi dengan benar. Anak-anak pun bisa belajar dan menyerap tiap hal dengan lebih optimal.

Lantas apa sih gaya belajar?

Dari beberapa materi baik dari kelas bunsay maupun hasil gugling, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang paling efektif bagi tiap individu untuk menyerap, mengolah dan memahami tiap informasi/ilmu yang masuk. Jika dulu, di sekolah para siswa yang harus mengikuti, manut, dan menyesuaikan diri dengan gaya guru mengajar, kini sudah seharusnya para guru lah yang mencari tahu gaya belajar paling efektif untuk tiap anak didiknya. Nah, karena orangtua adalah pendidik utama putra-putrinya, sudah sepatutnya para orangtua memahami gaya belajar mereka.

Menurut para pakar, secara garis besar gaya belajar bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu visual, auditorial dan kinestetik atau bisa disingkat VAK. Meskipun ada pengelompokkan, pada kenyataannya tiap orang memiliki kombinasi ketiganya, hanya saja biasanya ada satu atau dua yang lebih menonjol.

1. Visual

Gaya belajar visual lebih menonjolkan atau memanfaatkan mata/citra visual dalam pembelajaran. Misal dengan mencatat, membuat tabel, diagram maupun mind map.

2. Auditorial
Gaya belajar auditorial lebih mengutamakan indera pendengaran dalam proses pembelajaran. Misal dengan musik, suara, cerita, dongeng maupun dialog.

3. Kinestetik

gaya belajar kinestetik cenderung lebih mudah merespon, menyerap maupun memahami tiap informasi melalui aktivitas / gerakan maupun kordinasi tubuh.

Untuk lebih detail, bisa simak info grafis yang diambil dari materi Bunsay

Gaya Belajar Anak

Gaya Belajar Anak

Pada game level #4 bunsay kali ini tantangannya adalah memahami gaya belajar anak. Karena tidak ada aturan khusus, misal harus membuat project, maka tantangan kali ini kami rasa lebih santai dan low effort dibanding tantangan sebelumnya yang membutuhkan usaha ekstra. Santai disini karena kami cukup melaporkan hasil pengamatan aktivitas sehari-hari.

Meskipun tantangannya adalah mengamati, tapi aku berencana tetap membuat rancangan minimal untuk sepuluh hari ke depan, syukur-syukur bisa sampai tujuh belas hari melaporkan hasil pengamatan. Seperti level-level sebelumnya, aku menggandeng Agha untuk berpartner menjalankan tantangan ini. Kenapa selalu Agha? karena Affan masih terlalu kecil, usianya baru 1 tahun segingga masih butuh beragam aktivitas untuk menstimulasi perkembangannya. Meski dalam perjalanannya, sesekali aku melaporkan Affan dalam tantangan karena pada kenyataannya kami beraktifitas bersama.

Adapun rancangan selama menjalani tantangan, aku akan memfokuskan Agha pada hapalan surat-surat pendek dan mengenal kekuasaan Allah. Namun tidak menutup kemungkinan untuk melaporkan kegiatan lain / keseharian, karena Agha pun baru berusia 3 tahun yang juga masih membutuhkan banyak kegiatan.

Untuk hari pertama, sepulang kerja Agha mengajakku bermain lego. Saat ditanya apa yang sedang dibuatnya, jawabannya panjang lebar menganak sungai.

"Agha lagi buat pesawat, pesawatnya jatuh, kasian, terus ada kucing minta tolong, tolong, tolong, tolong, terus ditolongin sama Agha." Agha menjawab dengan mengeraskan suaranya saat mengatakan tolong, tolong, tolong dengan intonasi seperti orang yang benar-benar minta tolong.  Aku pun tertawa mendengar dan melihatnya begitu bersemangat menjelaskan, sayangnya aku tak bisa melanjutkan obrolan, karena Affan keburu nangis dan minta nenen. Aku pun pamit ke Agha untuk lebih dulu menyusui Affan. Agah mengangguk dan main sendiri di sebelahku yang sedang menyusui Affan.

Sembari membuat kreasi lego, Agha berceloteh memainkan legonya. Ia juga mengambil beberapa mainan hewan dan mendongeng sendiri menggunakan lego dan miniatur hewannya. Tangannya aktif memainkan mainannya dan bibir mungilnya tak henti bercerita. Di sela ceritanya, aku mendengar ada kata "satukan kekuatan" saat adegan bertempur antar hewan.

Esok siangnya di tempat kerja aku menanyakan apa itu satukan kekuatan pada rekan kerja yang juga punya anak seusia Agha. Ternyata satukan kekuatan ada di film Ultraman. Mungkin ini efek satu minggu terakhir Agha kami perbolehkan menonton televisi saat malam sehabis isya sampai aku kelar menidurkan Affan, ndilalah remote TV rusak, jadi kami tidak bisa menggantinya ke vidio dan tontonan yang lebih edukatif. Jadilah Agha beberapa hari ini full menonton Tayo dan atau Ultraman. Agha bermain sendiri sendiri cukup lama dan anteng. Ia berhenti saat adzan maghrib berkumandang, bersamaan dengan Affan selesai menyusu.

"Agha mau sholat maghrib? Mau ikut Mbahbu ke musholla?" tanyaku ke Agha.

"Agha mau sholat di rumah aja sama Unda," jawabnyaa ringan.

"Loh, kok di rumah, nggak di mushola aja buat jamaah? Allah lebih suka sama orang yang sholat jamaah lo."

"Tapi Unda sholat di rumah, Agha mau sama Unda, Agha kangen yo sama Unda, dari tadi belum sama Unda," celoteh Agha panjang yang membuat hatiku mengembang.

"Unda sholat di rumah karena Adek belum bisa diajak ke mushola, nanti kalau Adek udah rada gedean, kita bareng-bareng sholat di mushola ya."

"Owww..." Agha bergumam.

"Sekarang Agha sholat di mushola ya jamaah sama Mbahkung," rayuku sekali lagi.

"Enggeh, Agha mau ganti baju dulu ya," pinta Agha. Aku menawarinya baju koko lebaran tahun kemaren yang masih agak kebesaran.

"Jangan yang ini Nda, ini kegedean, Agha kan punya banyak, ada yang biru itu terus biru itu sama yang warna putih." Agha menunjuk ke lemari dan ke gantungan baju di belakang pintu tempat baju koko bersemayam.

"Ya sudah, terserah Agha mau pake yang mana, Agha pilih dulu."

Tak lama Agha memilih bajunya, baju koko warna biru berbahan kaos, koko lebaran dua tahun lalu. Setelah memakianya, ia ke musholla untuk ikut sholat meski sudah ditinggal mbah ibu. Karena mushola hanya berjarak selemparan batu, Agha terbiasa berangkat sendiri.

Malam sehabis maghrib. Agha kembali mengajak main lego. Aku mengiyakannya dengan syarat Agha ngaji dulu. Tapi Agha tak mau, ia keukeuh untuk main lego saat itu juga.

Aku yang tetap ingin Agha terbiasa mengaji setelah maghrib tak mau kalah. Sembari bermain lego, aku membacakan surat-surat pendek dengan alur mundur, dari Annas sampai Al-fiil. Agha ikut menirukan tiap ayat yang kulafalkan dan tangannya tak henti berkreasi. Ia nampak asik. Sesekali berhenti saat menujukkan hasil kreasinya. Aktivitas kami terhenti saat Agha mendengar deru suara motor ayahnya berhenti di depan rumah.

"Unda, ayah pulang," teriak Agha sambil berlari membukakan pintu. Setelahnya Agha main dengan ayahnya. Agha menceritakan beberapa kegiatannya hari ini dengan bahasa anak kecil. Ia juga menceritakan adek Affan yang sempat menghilang dari rumah dan ternyata sudah main di jalan sendirian. Ayah mendengarkan dan menimpali dengan usil. Aku mendengarkan dari belakang sembari menyiapkan makan.

***

Dari serangkaian kegiatan Agha hari pertama, aku menyimpulkan gaya belajar Agha dominan di auditorial. Caranya bercerita, berbicara sendiri saat bermain, asiknya mendengarkan surat-surat pendek sembari menirukan semuanya mengarah pada ciri gaya belajar auditori.

Berikut tabel pengamatan #Day01

Gaya Belajar Anak




Naila Zulfa
Seorang istri dan ibu pembelajar serta Praktisi HR yang suka dunia literasi. Selamat datang di Dunia Naila, semoga apa yang dibaca bermanfaat.

Related Posts

Posting Komentar